Kamis, 3 Desember 2020 | 13:53 WIB

Pihak Keluarga Keluhkan Penguasaan Tanah Milik Adun Oleh Pihak PDAM Tirta Intan

Minggu, 4 Oktober 2020 | 14:06 WIB
by Alam,tarungnews.com - 3.666 hit(s)

Lokasi sumber air yang dikelola PDAM di Kp. Cipicung Desa Cipicung Kecamatan Banyuresmi, Garut (dok. tarungnews.com)

Garut,TarungNews.com -  Pihak keluarga Adun (almarhum) warga Kampung Cipicung Desa Cipicung Kecamatan Banyuresmi, Garut menyampaikan keluhannya terkait penguasaan salah satu bidang tanah milik Sdr. Adun oleh pihak Perumda PDAM Tirta Intan Garut.

Pihak keluarga menguasakan keluhannya ini kepada Sdri. Ida binti Adun, anak perempuan dari Adun (alm) yang juga berdomisili di Kampung Cipicung Desa Cipicung.

Kepada tarungnews.com di Garut (24/9), Ida menyebutkan bahwa Adun adalah pemilik sebidang tanah yang terletak di Kampung Cipicung Desa Cipicung sebagaimana yang tercantum pada leter C sebagai peralihan yang dikeluarkan dari leter C induk yang tercatat mulai tahun 1982 dengan kepemilikan atas nama Raden Teja.

Pengakuan tersebut dibuktikan dengan surat keterangan dari kantor Desa Cipicung, surat pernyataan dari ahli waris Raden Teja dan keterangan dari leter C serta diperkuat keterangan warga penduduk setempat yang dianggap mengetahui riwayat tanah tersebut.

Ia pun menyebutkan bahwa tanah seluas 275 DA (Deci Are) tersebut sejak tahun 1994 sampai sekarang dikuasai dan dikelola oleh PDAM yang kemudian bernama Perumda PDAM Tirta Intan dengan status kepemilikan tanah yang hingga saat ini belum jelas.

Sementara itu, Asep bin Adun, anak pertama Adun (alm) menceritakan, "saat itu diwilayah tersebut sangat kesulitan air, sawah bisa ditanami padi hanya setahun sekali. Pada masa itu Bapak (Adun) sudah purnawirawan di TNI AD dan menjabat Kepala Desa Cipicung yang mana sebelumnya pun pernah menjabat Kepala Desa dibeberapa desa di Kecamatan Banyuresmi.

Disamping seorang warga lainnya Asep melanjutkan, "dengan kondisi seperti itu, Bapak (Adun) sebagai Kepala Desa saat itu berupaya menanggulangi kesulitan air untuk mengairi areal pesawahan yang ada diruang lingkup desanya dengan cara melakukan pemboran air setelah sebelumnya berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk berhubungan langsung dengan pihak BBWS Cirebon dan mendapatkan izin.

Berikutnya, sekitar tahun 1990 dilakukanlah pemboran diatas tanah yang dimaksud atau diatas tanah milik Bapak (Adun) dengan maksud dan tujuan sebagai sumber air untuk mengairi areal pesawahan di desa Cipicung dan sekitarnya yang kondisi saat itu rawan kekeringan dan bertujuan untuk mempertahankan ketahanan pangan masyarakat. Pemboran yang dilakukan pun berhasil, air keluar begitu besar cukup untuk mengairi pesawahan warga termasuk dapat digunakan juga oleh warga untuk kebutuhan lainnya.

Selanjutnya untuk pemeliharaan, perawatan dan kebutuhan lain-lain dilakukanlah pungutan yang volumenya disesuaikan dengan kemampuan masyarakat saat itu dan berdasar pada luas tanah yang kisarannya antara 2 sampai 3 rantang padi yang diberikan saat panen," kata Asep.

Ida memaparkan, "pada tahun 1994 masuk program PDAM dari Pemerintah Kabupaten Garut yang kemudian bernama PDAM Tirta Intan yang berbentuk perusahaan umum milik daerah (BUMD Pemkab Garut) yang diantaranya menggunakan dan mengelola sumber mata air tersebut dengan mengalihkan fungsi.

Ida menyebutkan, "proses pengalihan fungsi tersebut dianggap tidak jelas, dan selanjutnya tanah tersebut diklaim sebagai milik Perumda PDAM Tirta Intan dengan hanya berdasar pada bukti surat wajib pajak (SPPT).

Berdasar pada hal tersebut melalui media tarungnews.com kami mempertanyakan kepada pihak PDAM Tirta Intan bagaimana dan seperti apa bentuk dokumentasi alih fungsi terkait fungsi sebelumnya dari keberadaan sumber air tersebut yaitu sebagai sumber mata air untuk mengairi pesawahan tapi selanjutnya kenapa dijadikan sebagai sumber air bersih yang hingga sekarang dikelola langsung oleh Perumda PDAM Tirta Intan.

Selain itu sebagai ahli waris dari atas nama kepemilikan sebagaimana diriwayatkan pada silsilah tanah dan dibuktikan dengan leter C yang menjadi dokumentasi desa, kami mempertanyakan status kepemilikan atas tanah tersebut serta meminta pihak Perumda PDAM untuk menunjukan surat bukti kepemilikan atas tanah tersebut," pungkas Ida.

Tim tarungnews.com di Garut melakukan penulusuran kepada beberapa pihak terkait lainnya dan untuk sementara berhasil menghimpun keterangan.

Pihak desa membenarkan adanya terkait keterangan mengenai riwayat tanah dengan leter C  yang dimaksud yang bersumber dari kepemilikan atas nama Sdri. Raden Teja (almh) dan berikutnya dilampirkan surat keterangan dari pihak ahli waris kepemilikan tanah atas nama Raden Teja tersebut.

Sementara dari pihak Perumda PDAM belum bisa memberikan banyak informasi yang dibutuhkan terkait dokumentasi kepemilikan PDAM atas tanah yang dimaksud.

Seperti dikatakan oleh Direktur Teknis (Dirtek) PDAM Tirta Intan Garut, Ugun Wiguna. "Hal tersebut terjadi sudah lama, sekitar tahun 1994, peristiwa dan prosesnya jauh sebelum kami menjadi karyawan di PDAM Tirta Intan ini, jadi pengetahuan tentang itu sangat terbatas dan informasinya baru-baru ini diterima.

Menindaklanjuti informasi tersebut, saat ini kami sedang mencari data terkait di kearsipan yang ada dikantor. Hingga saat ini yang kami tahu tentang objek tersebut baru sebatas SPPT dan segala bentuk kewajiban atas itu dipenuhi, seperti segala kewajiban perpajakan juga kewajiban partisipatif kepada desa maupun yang bersifat partisifasi lainnya kepada masyarakat," kata Dirtek kepada tarungnews.com (29/9) di kantor Pusat PDAM Tirta Intan Garut Jl. Raya Bayongbong.

Tim tarungnews.com

Bagikan melalui:

Komentar Anda

BACA JUGA
Berita Foto | Senin, 16 November 2020 | 22:57 WIB
Berita Foto | Jumat, 6 November 2020 | 23:17 WIB
Berita Foto | Rabu, 4 November 2020 | 22:39 WIB
Berita Foto | Senin, 30 November 2020 | 22:27 WIB