Jumat, 30 Oktober 2020 | 22:34 WIB

Penyelamatan Macan Tutul Jawa Masih Terkendala Data

Sabtu, 23 November 2019 | 23:05 WIB
by Dar,tarungnews.com - 440 hit(s)

Macan tutul pra-dewasa ditemukan mati di hutan produksi, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Juli 2019 lalu. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia

Strategi dan Rencana Aksi Konservasi [SRAK] macan tutul jawa [Panthera pardus melas] Tahun 2016 – 2026, menjadi rujukan penyelamatan karnivor terakhir Pulau Jawa ini.

Menyusutnya hutan berkaitan erat dengan menurunnya populasi macan tutul jawa.

Invertarisasi habitat dan populasi macan tutul dibutuhkan agar upaya konservasi terarah.

Aspek sosial budaya masyarakat juga perlu ditingkatkan. Tujuannya, menjaga keberlangsungan hidup macan tutul serta menyelamatkan hutan jawa tersisa.

TarungNews.com - Adanya Strategi dan Rencana Aksi Konservasi [SRAK] Macan Tutul Jawa [Panthera pardus melas] 2016 – 2026, merupakan angin segar bagi keberlangsungan hidup kucing besar terakhir Pulau Jawa ini.

Dalam dokumen SRAK yang diteken Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK] melalui Peraturan Menteri [Permen] Nomor P.56/Menlhk/Kum.1/2016, banyak tersirat hasil penelitian terdahulu tentang karnivor ini.

Seperti hasil penelitian 1992. Diasumsikan populasinya di seluruh Pulau Jawa, tiap 1 individu macan tutul membutuhkan home range 5-10 kilometer persegi di habitatnya.

Pada dokumen SRAK juga dibuat pemodelan. Jika perkiraan hutan tersisa di Jawa hanya 13.68% atau seluas 327.733,03 hektar, diperkirakan estimasi awal populasi macan tutul di seluruh Jawa adalah 491,3-546,2 individu.

Berkurangnya luas kawasan hutan menjadi konsekuensi logis yang tak dapat dihindari. Hutan kian terdesak di tengah laju pengembangan sejumlah mega proyek insfraktruktur, dampak pengembangan Koridor Ekonomi Jawa dalam Kerangka Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia [MP3EI] 2011-2025.

Peneliti macan tutul, Hendra Gunawan, menuturkan bahwa SRAK ideal sebagai pijakan. Tantangannya berada pada implementasi aksi. Butuh sinergi karena melibatkan banyak pihak.

“SRAK memuat visi dan misi terukur. Namun, pada perkembangannya memerlukan adjustment atau penyesuaian,” kata Hendra, baru-baru ini kepada Mongabay Indonesia.

Adanya data habitat dan persebaran sangat krusial menentukan kebijakan dan perencanaan konservasi. Pada 2022, SRAK menargetkan pendataan populasi macan tutul tuntas. “Tetapi target itu bisa saja mengendor. Seperti biasa, tercekik dana penelitian.”

Hendra mengakui masalah itu. Tak ada anggaran khusus dari pemerintah mendanai penelitian kekayaan flora dan fauna. Sekalipun itu satwa prioritas negara diambang kepunahan.

Meski demikian, ada harapan di periode mendatang ketika pemerintah berencana membentuk Badan Riset Nasional. Sebuah lembaga baru dibawahi langsung oleh Kementerian Riset dan Teknologi, sesuai mandapat Peraturan Presiden Nomor 74 tahun 2019.

Hendra menyebut, riset macan tutul butuh dana besar. Ia mencontohkan, kajian konflik macan dengan manusia secara komprehensif memerlukan dana mencapai Rp200 juta.

“Itu hanya kajian kesesuaian habitat. Untuk translokasi macan berkonflik, bisa lebih besar lagi,” paparnya.

Hal senada disampaikan Anton Ario, Senior Manajer Terestrial Prorgram CI Indonesia. Ia menegaskan, dana penelitian memang sulit didapatkan. Kendati demikian, ada inovasi yang bisa ditempuh. Semisal, mengajak private sector yang lingkup kegiatannya berada di habitat macan tutul melalui dana sosial perusahanan [CSR].

“Itu satu contoh kolaboratif,” katanya.

Inovasi lain dalam bentuk kebijakan di level daerah hingga nasional. Contohnya, pemerintah daerah didorong memasukan aspek konservasi dalam APBD.

“Menjaga daya jelajah macan tutul sama halnya mendukung daya lingkungan suatu wilayah. Artinya, ada korelasi antara habitat macan tutul dengan rencana tata ruang wilayah [RTRW].

Dalam buku “Panduan Lapangan: Kucing Liar Indonesia” Anton memperkirakan tak lebih dari 600 ekor macan tutul tersebar di beberapa taman nasional di Pulau Jawa. Berdasarkan penelitiannya, kepadatan individu macan tutul anatara 5-20 kilometer persegi.

“Pendataan populasi komperhensif macan tutul di seluruh wilayah persebaran dibutuhkan. Terutama di luar kawasan konservasi, seperti di hutan produksi yang potensi kesesuaian habitat macan tutul juga tinggi,” ujarnya.

Meski Keputusan Gubernur Jabar Nomor 27 Tahun 2005 telah menobatkan macan tutul sebagai identitas fauna Jawa Barat akan tetapi keberadaannya masih dianggap membahayakan. “Padahal, selama ini tak ada catatan pemangsaan macan tutul terhadap manusia.”

Butuh pengawasan

Juli lalu, macan tutul pra-dewasa ditemukan mati di hutan produksi, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Bangkainya sudah melewati fase nekropsi di Bandung Zoo, Kota Bandung.

Dokter Hewan Bandung Zoo, Dedi Trisasongko mengatakan, butuh satu bulan menyimpulkan kematian predator itu. Kesimpulannya, macan tutul mati akibat peradangan.

“Awalnya kami menduga ada sejenis virus yang kerap menyerang jenis kucing. Setelah uji lab, hasilnya nihil. Secara fisik, kondisinya sehat. Lantas dilakukan pembedahan organ dalam, ada anomali pada sitem pencemarannya, terutama lambung,” ujarnya

Dedi berpendapat, kematian macan tutul disebabkan gangguan kesehatan dari lingkungan. Sebab, ditemukan zat klorida [CI] dan asam sulfat [H2SO4] di komposisi jaringan. Zat itu biasanya terkadung pada pestisida.

“Kandungan itu bisa saja dari faktor habitat atau mangsa buruan,” paparnya.

Namun, kata Dedi, itu tidak serta-merta dijadikan patokan penyebab kematian. “Hasil nekropsi dapat dijadikan referensi baru penelitian. Semisal, daya jelajah, pakan, dan habitat,” tegasnya.

Sumber : Mongabay Indonesia/oleh Donny Iqbal

Dar,tarungnews.com

 

Bagikan melalui:

Komentar Anda

BACA JUGA
Daerah | Jumat, 9 Oktober 2020 | 23:01 WIB
Berita Foto | Rabu, 7 Oktober 2020 | 22:59 WIB