Selasa, 27 Oktober 2020 | 23:22 WIB

Antisipasi Punahnya Badak Jawa, Rencana Habitat Kedua Kembali Menggema

Selasa, 1 Mei 2018 | 00:43 WIB
by Vie,tarungnews.com - 899 hit(s)

Tim forensik terlihat mengambil beberapa sampel organ Samson yang masih dinilai layak untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium Histopatologi, Divisi Patologi FKH IPB. Foto: WWF-Indonesia/Program Ujung Kulon

TarungNews.com - Kematian Samson, badak jawa (Rhinoceros sondaicus) usia 30 tahun, di tepi Pantai Karang Panjang, Resort Karang Panjang, SPTN Wilayah II Pulau Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon, Senin pagi, (23/4/18) mendorong kembali diwujudkannya rencana second habitat atau habitat kedua. Menurut Project Leader Program Ujung Kulon WWF-Indonesia Kurnia Oktavia Khairani, pentingnya habitat kedua adalah untuk mengurangi risiko kepunahan badak jawa secara total.

Hasil nekropsi menunjukkan, kematian Samson bukan disebabkan sakit infeksius. Apalagi akibat perburuan, dikarenakan culanya masih melekat di tubuhnya. Tidak ada tanda penyakit menular berbahaya juga di tubuh Samson seperti anthrax. Tubuhnya bebas dari bakteri, virus, atau parasit akut.

Penyebab kematian Samson adalah kholik atau torsio usus, yaitu usus besar dan usus kecil terpuntir (torso). Kondisi ini mengakibatkan kerusakan pada usus besar sehingga bakteri mikroflora usus menghasilkan racun dan kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya.

“Pengembangan second habitat selain Ujung Kulon harus menjadi prioritas Strategi Konservasi Badak Jawa 2018-2023. Tentunya juga, sebagai antisipasi berkembangnya penyakit epidemi yang masif beserta kekhawatiran bencana tsunami dan gempa bumi yang dapat menyebabkan punahnya badak jawa. Kami konsisten mendorong pemerintah untuk segera merampungkan strategi tersebut,” terangnya. Seperti di lansir Mongabay Indonesia, Sabtu (28/4/2018).

Penyakit infeksius epidemik ini dikhawatirkan dapat menyebar cepat ke seluruh populasi badak jawa apabila hanya terkonsentrasi di Ujung Kulon. Pengembangan populasi kedua diharapkan bisa menekan penyebaran penyakit infeksius tersebut. “Nasib badak jawa memang harus kita perhatikan penuh dan harus ada strategi penyelamatannya,” ujar Nia.

Terpisah, Zulfi Arsan, Dokter Hewan Suaka Rhino Sumatera (SRS) menyatakan, penyebab kematian Samson akibat tarsio usus berpotensi juga pada semua jenis badak, tak terkecuali badak sumatera. Usus melintir ini menyebabkan penyumbatan pada saluran usus, jadi bukan karena infeksi.

“Usus terpuntir akan menyebabkan penyumbatan. Ini mengakibatkan isi usus tidak bisa bergerak ke belakang, menumpuk dan menghasilkan gas. Akibatnya, dapat menyebabkan pecahnya usus (ruptur). Dalam prosesnya, terpuntirnya usus ini disertai rasa sakit yang amat sangat pada daerah perut,” terangnya, Minggu (29/4/2018).

Dalam dunia medis, agen infeksius sendiri didefinisikan sebagai penyebab penyakit yang dapat berpindah atau ditularkan dari satu individu ke individu lainnya, secara langsung maupun melalui perantara (vektor). Contoh agen infeksius adalah virus, bakteri, dan parasit yang dapat membahayakan kehidupan satwa liar dan juga manusia (Daszak 2000). Sementara, agen non-infeksius diartikan sebagai penyebab penyakit yang tidak dapat berpindah atau menular dari satu individu ke individu lainnya seperti racun (toksin). Kondisi ini disebabkan karena dikonsumsi atau terkontaminasi bahan racun yang berasal dari lingkungan.

Teknik medis konservasi

Teknik medis konservasi bisa diterapkan terhadap berbagai ancaman yang mempengaruhi kesehatan dan kelangsungan hidup badak jawa. “Langkahnya, bisa dilakukan dengan cara mengetahui DNA badak jawa. Saya tidak tahu apakah langkah itu sudah ditempuh atau belum? Karena sebetulnya, diperlukan sebagai referensi,” kata Ahli Genetika Molekuler ITB Bandung Adi Pancoro.

Secara saintis, kata dia, DNA dapat dijadikan informasi yang berguna untuk mengidentifikasi persebaran populasi. Misalnya, di populasi kecil itu ada kasus inbreeding atau tidak. Apalagi, sebanding dengan rencana pemindahan habitat. Informasi DNA akan berguna sekali untuk memilah badak yang potensial untuk bereproduksi.

“Cuma, pemerintah mau mendukung upaya indetifikasi DNA badak jawa tidak? Karena, biayanya tidak murah. Tapi, bila ini dapat diwujudkan akan menjadi inovasi powerfull bagi konservasi badak jawa seperti pada badak afrika,” ujar Adi. Meski sejatinya, habitat kedua bukan rencana baru karena hampir satu dekade konsep ini terus digulirkan.

Sebagai informasi, sebagaimana disertasi Adhi Rachmat Sudrajat Hariyadi (IPB) berjudul “Model Pengelolaan Populasi Badak Jawa Berdasarkan Analisis Nutrisi dan Tingkat Cekaman sebagai Parameter Kesehatan” dituliskan bahwa mortalitas akibat gangguan kesehatan badak jawa pernah terjadi pada lima individu pada 1982, dan satu individu di 2003. Semua kasus kematian itu diawali dengan gejala klinis kholik yang mengindikasikan adanya gangguan sistem pencernaan, sebagaimana kematian Samson. Sementara untuk perburuan, sejak awal 1970-an, sudah tidak ada lagi.

Ancaman

Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan mamalia berpostur tegap. Tingginya, hingga bahu, sekitar 128-175 sentimeter dengan bobot tubuh 1.600-2.280 kilogram. Meski penglihatannya tidak awas, akan tetapi pendengaran dan penciumannya super tajam yang mampu menangkap sinyal bahaya yang menghampiri kehidupannya. Satu cula sepanjang 27 sentimeter berwarna abu-abu gelap atau hitam di kepala, merupakan ciri khas jenis ini.

Badak jawa adalah satu dari 25 spesies terancam punah Indonesia yang diprioritaskan meningkat populasinya sebesarar 10 persen hingga tahun 2019. Tentunya, disesuaikan dengan kondisi biologis dan ketersediaan habitat. Kelestariannya saat ini bergantung pada kemampuannya mempertahankan jumlah (stable population) sekaligus meningkatkan populasi (viable population).

Terkait populasi badak jawa yang ada di TNUK sebanyak 68 individu saat ini, Wildlife Specialist WWF-Indonesia, Sunarto mengatakan, adanya kelahiran dan kematian harus menjadi catatan bersama. Dua kondisi ini penting dalam hal menentukan arah strategi konservasi.

“Tanpa ada faktor ancaman, populasi ini bisa terancam punah secara alamiah. Untuk itu, perlu antisipasi karena badak jawa hanya ada di satu wilayah,” katanya.

Habitat badak jawa di Ujung Kulon memang menghadapi invasi tumbuhan langkap (Arenga obtusifolia). Faktor ini menyebabkan berkurangnya ketersediaan tumbuhan pakan yang dibutuhkan badak. Invasi langkap pastinya menyebabkan terjadinya degradasi habitat badak jawa secara alami. Sementara, sebagaimana penelitian Yayasan Mitra Rhino – WWF (2002) mengenai persaingan ekologi badak dan banteng, menunjukkan adanya 62 jenis tumbuhan yang merupakan pakan bersama satwa ini. Artinya, ada persaingan untuk mendapatkannya.

Mengenai perburuan, Manajer Perlindungan Badak YABI, Waladi Isnan mengatakan, meski kegiatan tersebut sudah tidak ditemukan, namun intervensi manusia yang masuk kawasan konservasi ini masih terus terjadi hingga sekarang. Kegiatan yang dikategorikan melanggar aturan tersebut, paling sering didapati adalah berburu burung.

“Temuan kami di lapangan, tidak menampik adanya gangguan itu,” tambahnya. YABI merupakan kemitraan TNUK yang memiliki tupoksi sebagai patroli kawasan.

Taman Nasional Ujung Kulon secara keseluruhan luasnya 122.956 hektar yang terbagi atas kawasan darat 78.169 hektar dan perairan 44.337 hektar. Secara geografis, TNUK masuk ke wilayah Kabupaten Pandeglang, Banten. Selain sebagai habitat terakhir badak jawa, di sini juga tempat hidupnya banteng jawa (Bos javanicus), macan tutul (Panthera pardus melas), dan berbagai jenis burung liar.

Sumber : Mongabay Indonesia

Vie,tarungnews.com

Bagikan melalui:

Komentar Anda

BACA JUGA
Daerah | Sabtu, 17 Oktober 2020 | 23:03 WIB
Berita Foto | Rabu, 30 September 2020 | 23:19 WIB