Selasa, 27 Oktober 2020 | 21:37 WIB

Rekomendasi Untuk Kebun Binatang Bandung Pasca Kejadian Beruang Madu

Minggu, 29 Januari 2017 | 00:59 WIB
by Vie,tarungnews.com - 881 hit(s)

Beruang madu sedang bersantai di kandangnya berukuran 4 x 4 di Kebun Binatang Bandung, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Rabu (18/01/2017). Menurut data Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, 10 ekor beruang madu dinyatakan sehat dan 1 ekor beraktifitas normal. Foto : Donny Iqbal

Lintas Jabar,TarungNews.com - Setelah ramai jadi sorotan publik, Kementerian Lingkungan Hidup dan  Kehutanan (KLHK) melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, akhirnya melakukan  investigasi mendalam menanggapi maraknya pemberitaan ihwal kondisi satwa di Kebun Binatang Bandung (KBB).

Kegiatan tersebut bertujuan untuk melakukan pemeriksaan secara komperhensif mengenai kondisi satwa terutama beruang madu (Helarctos malayanus) yang diduga kurus tak terurus.

KBB sendiri memiliki 11 koleksi individu beruang madu, dan semuanya telah dilakukan pemeriksaan oleh tim investigasi. Salah satu beruang yang diperiksa adalah Kardit, yang terdokumentasi dalam video dan foto yang menjadi viral di media sosial akhir-akhir ini.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, terekam kondisi seluruh beruang madu dalam keadaan sehat dan  beraktifitas normal. Kondisi Kardit, secara menyeluruh terlihat sehat dan jauh lebih baik dari kondisi saat video tersebut diambil (Mei 2016).

Kardit yang dianggap kurus tersebut diketahui berumur sekitar 23-25 tahun, hal itu dibuktikan, dengan kondisi gigi beruang yang sudah tanggal dan keropos. Kondisi badan beruang Kardit sudah jauh lebih baik setelah KBB mendapat peringatan dari KLHK, pada Mei tahun lalu.

Kepala BBKSDA Jabar bertemu pihak Yayasan Scorpion Indonesia dan pengurus Persatuan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) terkait peredaran foto di media. Diakui pihak Yayasan Scorpion Indonesia, bahwa video yang mereka unggah dan menjadi viral tersebut, merupakan vdeo lama yang diambil pada bulan Mei 2016 lalu, dan bukan foto terbaru dari beruang tersebut.

Hasil rapat dengan Tim, Menteri LHK Siti Nurbaya akhirnya memberikan arahan  dan memutuskan beberapa hal.“Perlu dilakukan perbaikan fasilitas dan pengelolaan KBB, agar dapat lebih baik lagi”, kata Menteri Siti Nurbaya dalam siaran pers yang dikeluarkan, Rabu (25/1/2017).

Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK, dalam waktu dekat akan mengundang pengelola KBB dan Yayasan Scorpion Indonesia dalam rangka langkah-langkah penegakan hukum. “Kami juga meminta kepada KBB untuk melakukan pelepasliaran Burung Kuwok Biru atau burung laut hasil breeding sesuai dengan jumlah populasi yang ada”, kata Menteri Siti Nurbaya.

Siti meminta BBKSDA Jabar agar melakukan pemantauan berkala dan intensif atas operasional KBB. Dia melanjutkan pihaknya akan berupaya terus melakukan perbaikan regulasi untuk kesejahteraan satwa, serta pengembangan rancangan portal online tukar menukar, pemindahan dan pelepasliaran satwa liar.

KBB harus Melakukan Perbaikan

Ditempat terpisah, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) Tony Sumampau menyebutkan, ada rekomendasi yang mesti pihak KBB lakukan terkait dengan perbaikan secara manajemen adminitrasi, seperti pendataan dan sarana penunjang kesejahteraan satwa.

“Kami sarankan kepada pihak KBB untuk mengkaji lagi terkait pakan supaya tidak boros, dan protein dikedepankan. Mereka akan terus kami bina,” kata Toni saat dihubungi Mongabay melalui sambungan telepon Kamis, (26/01/2017).

Toni mengungkapkan, pada umumnya kesehatan satwa di KBB dalam kondisi baik dengan adanya dua personel dokter hewan yang mengawasi sejak Agustus tahun lalu. Berbeda pada saat kasus kematian gajah Sumatra, waktu itu hampir 9 bulan tidak ada dokter hewan.

“Sekarang  ada dokter hewannya, kemudian pihak KBB  lebih terbuka dan selalu berkomunikasi jika menemui kendala tentang penanganan hewan, sehingga kita bisa saling bantu,” tambahnnya.

Dia juga menyesalkan dengan meluasnya video lama, menunjukan beruang madu yang diduga kelaparan. Padahal, kurusnya seekor beruang madu di KBB itu kerena faktor umur yang sudah tua, bukan akibat dari kelaparan.

Ketika ditanyakan perihal keterlibatan Yayasan Scorpion Indonesia dalam manajemen di KBB, Toni mengaku mendengar LSM tersebut telah mendapat pendanaan dari luar negeri. Dia menuturkan, hal tersebut juga sudah dibahas bersama menteri KLHK dengan BBKSDA jabar.

“Kenapa sih kalau bangsa kita mampu kok masih mengharapkan seperti itu (dana dari luar negeri)? kecuali bangsa kita tidak mengerti mengelola kebun binatang. Kita punya kok yang terbaik di Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Mengapa jadi kita (seolah) mengemis bantuan dari luar?” imbuhnya.

Dia menilai, potensi indonesia dalam mengelola hewan masih mumpuni. Terbukti dengan berhasil mengembangbiakan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung ketimbang di Amerika. Sehingga hal tersebut bisa menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga cukup mampu ketika berbicara konservasi.

Pelepasliaran

Terkait satwa koleksi, KLHK meminta pihak KBB melepasliarkan burung kuwok (Amaurornis phoenicurus), yang sekarang ada sekitar 60 ekor hasil penangkaran yang ada di KBB.

“Bagusnya dilepasliarkan karena burung rawa ini lebih cocok di alam. Jika pihak KBB mau memelihara 10 ekor saja, tidak perlu banyak. Terkait teknisnya ada di protokol pelepasliaran,” kata Toni.

Masih dikatakan dia, sejauh ini ada beberapa satwa langka yang berhasil berkembangbiak di KBB diantaranya, binturong (Arctictis binturong) 20 ekor, bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) 14 ekor dan tapir (Tapirus).  Selain sisi buruk, KBB juga memiliki sisi baik yang membanggakan dan perlu diapresiasi, karena tidak semua kebun binatang dapat berhasil melakukan perkembangbiakan satwa langka.

Menurutnya, kebun bintang merupakan sarana edukasi sekaligus rekreasi keluarga yang murah meriah. Namun sebagai pengunjung yang baik mesti menjaga aturan bahwa tidak diperkenankan memberikan makanan apapun terhadap satwa – satwa agar keunikannya dapat dinikmati.

“Hewan stres di kebun binatang merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Untuk beruang, mereka berdiri sebetulnya bukan karena lapar tetapi perilakunya saja yang begitu” ujarnya.

Jika pengunjung melempari makanan, kata dia, belum tentu makanan itu sesuai dengan beruang seperti kacang atau kue yang mengandung pemanis buatan sehingga bisa saja berdampak pada kesehatannya.

Sementara itu, Kepala BBKSDA, Sustyo Iriyono mengatakan semua hasil kegiatan investigasi selama di KBB sudah diserahkan sepenuhnya ke KLHK. Menurutnya, BBKSDA hanya memiliki kewenangan untuk membina dan menegur Kebun Binatang, itupun dari segi pengawasannya.

“Tentu kedepan akan kami lakukan monitoring secara berkala untuk menghindari hal–hal yang tidak diinginkan terjadi lagi. Terkait pelepasliaran burung uwok, nanti akan disurvei dulu habitat pelepasliaran yang cocok. Handling (penanganan) dari KBB ke lokasi calon habitat,” kata Sustyo melalui pesan singkat.

Sumber : mongabay.co.id

Editor : Vie,tarungnews.com

 

 

Bagikan melalui:

Komentar Anda

BACA JUGA
Politik | Rabu, 14 Oktober 2020 | 23:21 WIB
Berita Foto | Rabu, 7 Oktober 2020 | 23:04 WIB
Berita Foto | Minggu, 11 Oktober 2020 | 14:22 WIB
Berita Foto | Rabu, 30 September 2020 | 23:11 WIB