Selasa, 27 Oktober 2020 | 23:25 WIB

Pelaku Penyelundupan Satwa Dilindungi Sembunyikan Trenggiling dalam Karung

Jumat, 19 Februari 2016 | 03:05 WIB
by Tons,tarungnews.com - 979 hit(s)

Personel Dit Polair Polda Sumut menunjukkan barang bukti trenggiling (Manis Javanica) yang diamankan di Mako Dit Polair Polda Sumatera Utara, di Belawan, Medan. (Foto: ANTARA/Irsan Mulyadi)

Medan,TarungNews.com - Empat awak Kapal Motor (KM) Rezeki Abadi, Faisal Rahman, Zuhri, Adi Sutrisno dan Taufik berencana menyeludupkan 103 ekor trenggiling ke Malaysia. Para pelaku menyembunyikan trenggiling hidup dalam karung.

Fakta tersebut terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (17/2/2016).

Saksi Ahmadin, petugas di Polisi Kehutanan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut mengatakan, Ditpolair Polda Sumut menemukan para pelaku menyimpan 103 ekor trenggiling. 94 ekor masih hidup dan sembilan sisanya sudah dikuliti.

"Jadi saya dipanggil oleh petugas Ditpolair Polda Sumut untuk memastikan bahwa trenggiling ini merupakan hewan yang dilindungi. Memang trenggiling itu disimpan dalam karung tertutup rapat," kata Ahmadin.

Sementara itu, petugas Pengendalian Ekosistem Hutan BBKSDA Sumut Dian Rohdiana yang juga dihadirkan sebagai ahli menyatakan trenggiling merupakan hewan yang dilindungi oleh pemerintah karena populasinya terancam punah akibat perburuan liar dan perdagangan ilegal.

"Trenggiling itu hewan yang dilindungi karena populasi di alamnya terancam punah, populasi cenderung menurun dan penyebaran terbatas. Banyak orang yang memburu trenggiling karena nilai jualnya tinggi," terang Dian.

Menurut Dian, di Indonesia hewan bersisik ini terdapat di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Selain itu, trenggiling berkembang biak sangat lamban, hanya beranak satu kali setahun. Trenggiling dikategorikan sebagai hewan yang dilindungi sejak 1931 sesuai Undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang Konsevasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

"Trenggiling hanya melahirkan satu ekor anak dan sifatnya monogami. Makanya populasinya juga minim. Jadi sesuai peraturan setiap orang dilarang menangkap maupun memperjualbelikan trenggiling," pungkasnya.

Sementara itu saksi Losmen Ginting, Koordinator Kapal Lantamal Belawan mengaku pemilik dari trenggiling itu adalah Atiam. 

Losmen sempat ditegur hakim lantaran berulangkali membantah mengetahui penyeludupan trenggiling itu. Padahal peran Losmen dalam kasus ini juga menentukan mengingat pria berkulit hitam itu diminta oleh Atiam untuk mengamankan kapal bila terjadi masalah.

"Saya tidak tahu majelis. Karena selama ini saya hanya koordinasi melalui telepon dengan Atiam. Setelah penangkapan itu terjadi, saya memang melapor pada Atiam. Tapi setelah itu, nomor telponnya tidak pernah aktif lagi. Saya pun baru sekali berjumpa dengan Atiam," ucapnya.

Dari mengamankan perjalanan kapal, Losmen mengaku mendapat upah Rp300 ribu setiap keberangkapan kapal. Selain itu, Losmen juga menerima Rp3 juta perbulan dari tugas yang dijalankannya.

"Pengangkutan trenggiling dengan kapal. Tapi saya tidak kenal pelaku. Saya tidak pernah lihat kapalnya. Pengangkutan pertama trenggiling ini berhasil. Tapi saya tidak tau berapa jumlahnya," bebernya.

Kasus ini berawal saat Petugas Dipolair Polda Sumut menerima informasi dari masyarakat bahwa akan ada penyeludupan trenggiling dari Belawan ke Malaysia. Setelah dilakukan pengintaian, petugas berhasil menggagalkan penyeludupan itu serta menangkap keempat pelaku pada Rabu 11 November 2015.

103 ekor trenggiling yang diangkut dengan KM Rejeki Abadi rencananya akan dibawa ke tengah atau laut perbatasan Indonesia Malaysia. Jika berhasil, para pelaku akan mendapatkan upah Rp1,2 juta sekali antar. Di laut perbatasan semua trenggiling dibongkar ke kapal lain yang membawanya ke Malaysia, untuk dijual dengan harga Rp5 juta per ekor.

Para pelaku diketahui telah dua kali menyelundupkan trenggiling ke Malaysia. Petugas masih melakukan pengejaran terhadap Atiam yang merupakan otak pelaku. Keempat terdakwa dijerat Pasal 21 ayat 2 huruf b jo Pasal 40 ayat 2 UU nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 e KUHP. MEL

Sumber : metrotvnews.com

Editor : Tons,tarungnews.com

Bagikan melalui:

Komentar Anda

BACA JUGA
Politik | Minggu, 18 Oktober 2020 | 23:08 WIB
Head Line | Sabtu, 10 Oktober 2020 | 12:10 WIB
Berita Foto | Jumat, 2 Oktober 2020 | 22:38 WIB